Teknologi laser, obat masa depan

Selasa, 29 Mei 2012
Large_foto-laser

Berbagai gangguan kesehatan saat ini bisa ditangani dengan baik, cepat dan tepat, berkat teknologi kedokteran laser yang makin canggih. Dan, yang terpenting dari semua itu adalah pasien tidak perlu lagi mengkonsumsi obat-obat kimia secara berlebihan.

"Di kalangan dokter, penggunaan laser diyakini sebagai the future of medicine. Laser mampu memperbaiki kualitas darah, sehingga pasien tidak perlu mengonsumsi obat kimia yang berlebihan," kata L.S. Handikin, Ketua Umum Ikatan Kedokteran Laser Seluruh Indonesia (Iklasi), Kamis 27 Oktober.

Untuk memperkenalkan lebih jauh mengenai perkembangan teknik laser bagi kesehatan ini, katanya, Iklasi akan menggelar Kongres Nasional ke-6  di RSPAD Gatot Subroto pada 11-13 November.

Dia menuturkan pengobatan dengan laser di Indonesia sudah menjadi tren. Bahkan tak sedikit pasien yang meminta dilaser, meski tanpa indikasi.

"Walau laser bisa mengatasi gangguan penyakit, bukan berarti alat tersebut bisa digunakan seenaknya. Tetap harus ada indikasi penyakit," ujar Handikin yang sehari-hari berpraktik di RS Pelni ini.

Hal senada juga dikemukakan oleh Dokter Abraham Arimuko, Kepala Departemen Kulit dan Kelamin RSPAD Gatot Subroto. Dia menyebutkan penggunaan laser untuk peremajaan kulit kini menjadi tren di kalangan ibu-ibu usia di atas 40 tahun.

Berkat laser, kulit bisa menjadi lebih kencang. "Jauh lebih efektif dibanding penggunaan obat oles. Tapi biasanya pasien minta bukan hanya kulit yang lebih kencang, tapi juga lebih cerah dan lebih halus. Sehingga dibutuhkan perawatan yang lebih detail," tambah spesialis kulit ini.

Bram mengakui penggunaan laser dalam kecantikan kulit masih tergolong mahal. Untuk satu sesi pengobatan dibutuhkan dana sekiar Rp1 juta-Rp3 juta, tergantung tindakan.

"Jika memang ada indikasi, seperti tanda lahir hitam atau tompel, kami anjurkan di laser. Tapi bila masih bisa diatasi dengan krim, tak perlu pakai laser," ujarnya.

Handikin menambahkan teknologi kedokteran laser yang makin canggih, tidak dibarengi dengan sumberdaya yang memadai. Saat ini tercatat sekitar 1.000 dokter laser dari sekitar 80.000 dokter di seluruh Indonesia.

"Jumlahnya dokter yang 1.000 orang itu belum semuanya setiap hari memegang alat laser. Walau sudah ikut kursus penggunaan laser yang digelar Iklasi," ungkapnya.

Dia berharap pada pimpinan rumah sakit di seluruh Indonesia untuk memberi kesempatan para dokternya untuk belajar tentang laser. Karena teknologi laser, terutama di negara maju telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kedokteran.

0 komentar:

Posting Komentar